Maryono mengenang masa ketika genting tanah liat menjadi pilihan utama masyarakat. Pesanan datang silih berganti dan usaha berjalan stabil tanpa banyak hambatan.
“Kalau dulu enak Pak, prosesnya. Kan sekarang itu pesaingnya itu genting dari seng. Itu kita habis, banyak kan pada gulung tikar, Pak. Soalnya pada beralih ke seng,” katanya.
Persaingan dengan atap seng membuat banyak perajin genting tanah liat gulung tikar. Selain itu, distribusi solar yang kian sulit turut menambah beban produksi.
“Terus kendalanya, kalau dulu enggak ada kendala soalnya kita beli solar, minyak, itu paling penak dari dulu, Pak. Kalau sekarang susah cari solar,” ucapnya.
Ketika tidak mendapatkan solar bersubsidi, dia terpaksa membeli dari tengkulak dengan harga Rp8.000 hingga Rp8.500 per liter. Kondisi itu membuat biaya produksi semakin membengkak.