Meski demikian, bahan baku tanah liat masih relatif mudah diperoleh dari sawah dan kampung sekitar. Dalam sebulan, usaha genting tanah liat ini mampu memproduksi sekitar 30.000 genteng dengan upah pekerja Rp70.000 hingga Rp80.000 per hari termasuk makan.
Di tengah tekanan tersebut, Maryono mengaku mendapat harapan baru setelah mendengar rencana program Gentengisasi dari Presiden Prabowo Subianto. Dia mengetahui informasi itu dari YouTube.
“Jadi dari program Pak prabowo itu kita dapat kayak angin segar. Kalau bisa lanjutkan, Pak. Dengar dari Youtube itu, Pak. Dari Presiden. Dari lima Presiden, dari Pak Harto (Soeharto) sampai sekarang. Yang memikirkan genting cuma Pak Bowo (Prabowo),” ujarnya.
Dia menilai perhatian terhadap industri genting tanah liat penting agar perajin kecil tidak semakin terpinggirkan. Menurutnya, genting tanah liat lebih kuat dibanding seng saat diterpa angin kencang.
“Suka banget. Jolos, mantap, Pak. Lanjutkan. Kita masyarakat itu diperhatikan banget kalau ada gitu. Enggak kayak dulu itu enggak ada. Kita kayak terabaikan. Ya, usaha-usaha genting lokal itu bisa naik lagi, Pak. Enggak kayak kali ini kan sudah pada yang belum kita bisa kerja lagi. Enggak nganggur, gitu,” katanya.