Teknis untuk memperoleh penetapan dari UNESCO itu mulai dari tahapan proposal, tentu dikaji secara ilmiah. Di antaranya meliputi sisi sejarah hingga otentifikasinya. Beberapa kali, kata dia, pihaknya terus melakukan koreksi dan perbaikan untuk kemudian diusulkan kembali.
“Alhamdulillah dari pihak UNESCO datang ke Kota Semarang melihat, mereka melakukan verifikasi secara diam-diam,” katanya.
Pihaknya, kata dia, ingin segera memperoleh penetapan itu. Salah satunya, agar tidak tertinggal dengan wilayah lain, misalnya Solo yang mempunyai keraton atau di Bali yang punya pantai dan alam yang indah.
Bentuk dukungan penetapan itu juga saat ini sedang dikembangkan kawasan penyangga, seperti; Kawasan Pecinan, Kampung Melayu ataupun Kawasan Kauman atau Kampung Arab. Ada usaha untuk mengembalikan sejarah keemasan Kota Semarang tempo dulu, yaitu Semarang Lama.
Tak hanya secara fisik yang digarap, salah satu yang sudah terlihat yakni ditetapkannya Warak Ngendok dan Wayang Orang Ngesti Pandowo sebagai Warisan Budaya Tak Benda di Kota Semarang.