Pada umur 16 tahun, Sanawi dan tetangganya merantau ke Jakarta. Bermodal Rp7.500 hasil penjualan ketela. Namun dia tetap nekat merantau.
Namun sesampai di Jakarta, ia malah ditinggal tetangganya, sembari bersedih dan menangis ia kemudian kembali pulang ke Blora.
Tekad kuatnya menggelora mendorong dirinya kembali ke Jakarta ia merantau sendirian dan berhenti di Terminal Pulogadung. Sempat bekerja sebagai kuli bangunan namun rupanya Sanawi gagal.
Tak putus asa, ia lantas berkeliling ke beberapa pemukiman menawarkan jasa mengecat rumah. Selama di Jakarta, Sanawi tidur serampangan, emperan toko, musala, hingga beberapa tempat lainnya ia lakukan untuk melepas lelah.
Di tahun 2006, bersama temannya Sanawi pindah ke Samarinda. Setahun disana, hidupnya tidak berubah. Dia kemudian mencoba menghubungi temannya hingga ditawarkan berjualan es krim.