Kisah Jenderal Soedirman Tak Pernah Tinggalkan Salat meski Kondisi Sakit saat Perang Gerilya

Doddy Handoko
Jenderal Soedirman saat tiba di Jakarta pada 1 November 1946. (Foto: Istimewa/Wikipedia)

Sebagai kader Muhammdiyah, dia dikenal sebagai santri atau jamaah yang cukup aktif dalam pengajian “malam Selasa”, yakni pengajian yang diselenggarakan oleh PP Muhammadiyah di Kauman berdekatan dengan Masjid Besar Yogyakarta. 

Mengawali karier militernya sebagai seorang dai muda yang giat berdakwah di era 1936-1942 di daerah Cilacap dan Banyumas. Hingga pada masa itu ia adalah dai masyhur yang dicintai masyarakat.

Soedirman selalu menjaga kesuciannya dengan berwudhu. Saat wudhunya batal, ia akan berwudhu kembali. Bahkan, jika tidak dalam masuknya waktu sholat, ia tetap akan berwudhu.

Dia selalu menjaga menjaga wudhunya. Saat mendengar suara azan, dia pun langsung melaksanakan salat. Bahkan saat memimpin perang gerilya, dia tidak pernah menunda untuk beribadah, termasuk dalam kondisi sakit.

Saat bergerilya, Soedirman pun memerintahkan kepada ajudannya untuk membawa kendi yang berisi air. Air itu digunakan untuk berwudhu saat perang gerilya.

Editor : Ahmad Antoni
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Kadus di Purbalingga Tewas Dibacok saat Semprot Tanaman di Kebun

57 tahun lalu

Kreatif! Pemuda di Purbalingga Ubah Batang Pepaya jadi Pakan Kambing Berkualitas

57 tahun lalu

Pemakaman Prajuit TNI, Tangis Istri Kopda Anumerta Farizal Pecah di TMP Giripeni

57 tahun lalu

Hujan Badai Terjang 21 Desa di Purbalingga, Ratusan Rumah Rusak 1 Pemotor Terluka

57 tahun lalu

Mobil SAR Magelang Terbalik usai Pulang Cari Pendaki Hilang di Gunung Slamet

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal