Salah satu langkah menjaga keutuhan NKRI, kata dia, dapat dilakukan dengan saling menghormati dan sikap toleransi. Baginya, Indonesia bukan hanya ditinggali oleh penduduk muslim saja. Banyak masyarakat non muslim yang juga memiliki kontribusi di Indonesia.
"Dalam agama Islam diajarkan mengenai toleransi, bagaimana Nabi Muhammad SAW kita membuat (membangun) Madinah. Di sana ada (dibuat) Piagam Madinah yang di dalamnya juga terdapat orang non muslim. Kita diajarkan untuk menjaga hubungan sinergi (di Indonesia)," ujarnya.
Sementara itu, pengasuh Ponpes Salafiyah syafi'iyah Sukorejo, Situbondo, Raden Ahmad Azaim Ibrahimy mengatakan hal yang berpotensi menimbulkan perpecahan adalah sikap fanatisme. Sikap ini, lanjutnya, harus bisa diredam dengan cara yang baik.
KHR Ahmad Azaim Ibrahimy menekankan, santri harus mengambil peran dan memperjuangkan asas tunggal Pancasila sebagaimana yang dilakukan oleh ulama-ulama pendahulu.
"Santri harus bisa meneruskan perjuangan para masyayikh (ulama) pendahulu dalam mendirikan negara, melawan penjajah," ujarnya.
Ia menceritakan, perjuangan ulama sebagaimana dilakukan oleh KHR As'ad Samsul Arifin, pengasuh kedua Ponpes Salafiyah Syafi'yah Situbondo. Hingga kini, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
"Santri itu sami'na wa atho'na kepada guru kepada kiai. Dan, santri itu harus bisa menghindari perpecahan. Negara ini ada banyak suku, ras dan agama yang harus dijaga, toleransi. Jadi, santri juga ambil peran dalam menjaga nasionalisme," ujarnya.