Mereka juga diusulkan oleh lembaga pendidikan kegamaan nonformal kepada Kantor Kemenag setempat, memiliki surat mengajar, memiliki rekening bank aktif atas nama penerima bantuan insentif dan berdomisili di Jateng.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen mengatakan, pemberian insentif ini sebagai bentuk menunaian janji kampanye dirinya dan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, pada pilkada 2018 lalu. Saat itu, Ganjar–Yasin berjanji membangun pendidikan keagamaan dan Sumber Daya Manusia (SDM) pondok pesantren.
"Janji ini langsung kami tunaikan, agar pembangunan mental dan spiritual anak-anak kita lebih baik. Mentalnya baik, tidak mudah terpapar hoax. Bisa juga menjadi modal untuk membuka usaha," kata Taj Yasin.
Dia berharap insentif ini dapat membantu mengurangi beban masyarakat, khususnya guru agama, sehingga dapat menurunkan angka kemiskinan di Jateng.
"Kalau soal jumlah, harapan kami tiap tahun bisa bertambah nominalnya untuk per orangnya. Dengan mereka sejahtera, upaya pengentasan kemiskinan di Jateng juga terlaksana. Apalagi, selama Maret 2019–September 2019 jumlah orang miskin di Jawa Tengah telah berkurang 63.830 ribu orang atau 0,22 persen," katanya.
Pria yang akrab disapa Gus Yasin ini berharap, masyarakat dapat menjadi mata dan telinga bagi Pemprov Jateng. Khususnya di dalam mengawasi pelaksanaan program dan kegiatan pengentasan kemiskinan agar semakin tepat sasaran.
"Saya berharap, di akhir masa jabatan kami, angka kemiskinan dapat ditekan di bawah dua digit. Tiada gading yang tak retak, saya menyadari masih banyak kekurangan di dalam upaya pengentasan kemiskinan di Jateng. Untuk itu, partisipasi publik menjadi sangat penting," ucapnya.