Menurutnya, aplikasi alat tersebut merupakan karya teknologi inovasi untuk mitigasi bencana banjir akibat sedimentasi. Pengembangan teknologi inovasi ini selaras dengan komitmen Direktur Polines Ir Supriadi MT.
Dia mengatakan, apabila hujan langsung alat ini bisa memberikan informasi berapa curah hujannya. Data curah hujan itu kemudian masuk ke tank model, sehingga akan diketahui berapa debit sedimennya.
“Selama ini kita masih mengukur sedimen dilakukan secara manual dan membutuhkan biaya cukup besar, kemudian waktunya harus menunggu ketika hujan baru bisa mengukur,” katanya.
Maka dengan model tank ini kemudian digabungkan dengan IOT lebih mudah. Datanya real time dan bahkan data hujan yang waktu sebelumnya juga tidak hilang karena alat ini bisa menyimpan data.
Terkait cara penggunakan alat ini secara detil, dia meyakini alat ini akan lebih menghemat biaya yang cukup besar. “Jadi kalau semisal mengukur debit sedimen menggunakan jasa konsultan akan menghabiskan biaya ratusan juta, apalagi kalau pengukuran sedimen di beberapa titik. Pemanfaatan alat ini akan menghemat sampai miliaran karena dengan alat ini bisa dipakai seterusnya,” ujarnya.