Tak ada firasat sama sekali. Namun suara berisik cicak di dalam kamar, membangunkan tidur nyenyaknya, kemungkinan sebagai penanda Durrohim telah tiada pada malam itu.
“Waktu pas mau Subuh, ada suara cicak membangunkan saya, pas nyenyak-nyenyaknya tidur. Nggak mengira sama sekali akan terjadi seperti ini, “ kenang Faridatus.
Sementara itu, paman korban, Supardi mengaku masih memendam dugaan bahwa Durrohim menjadi korban tindak kekerasan. Bukan terlindas truk tambang, sebagaimana informasi awal yang diterima keluarga.
Selain kondisi lukanya mencurigakan, ia juga bertanya-tanya, kenapa bekas darah korban di TKP (tempat kejadian perkara) tampak dihilangkan jejaknya dengan cara dibakar. “Sengaja dirusak, bekas darahnya dibakar. Bau solar menyengat banget kok, “ kata Supardi.
Supardi memahami kesulitan polisi karena keterbatasan saksi di TKP yang mau berterus-terang atas peristiwa tersebut. Hal itu pula yang menyebabkan kenapa makam Durrohim baru dibongkar untuk keperluan autopsi, setelah meninggal dunia bulan Agustus tahun 2020 silam.