“Kalau benar politik uang, ranahnya pidana. Di tingkat kepolisian, mempunyai waktu 14 hari, “ ucapnya.
Dalam rekaman video berdurasi 54 detik yang beredar luas di media sosial dan WA group, tampak sejumlah orang berada di kompleks makam. Seorang pria berbaju biru, mengenakan peci dan kaca mata membawa segepok uang, kemudian membagikan. Spontan ada yang berkata “duwike (uangnya) Harno-Bayu lur”. “Alhamdulilah cair duwike Harno”.
Mantan Kepala Desa Japerejo Kecamatan Pamotan, Hasyim yang kebetulan ada dalam video itu mengatakan, lokasi pengambilan video berada di makam seorang ulama di Desa Pohlandak Kecamatan Pancur. Dia bersama para alumni pondok pesantren Kediri, Jawa Timur menggelar doa bersama rutin di makam tersebut.
Mereka melakukan patungan atau iuran dana untuk membantu pembebasan lahan pondok pesantren di Kediri. Namun uang yang terkumpul justru menjadi bahan candaan atau guyonan, diplesetkan uang dari Harno sudah cair.
Hasyim yang juga pendukung pasangan Harno-Bayu menegaskan materi video itu bercanda. Sama sekali uang tidak terkait dengan pemberian salah satu pasangan calon. Ia turut menyampaikan permohonan maaf kelakuan sejumlah rekannya, yang akhirnya memicu kesalahpahaman.
“Waktu itu terkumpul uang kalau nggak salah Rp34 atau Rp35 juta. Itu uang urunan kami para alumni sebuah pondok pesantren di Kediri, untuk membantu pembebasan lahan pondok di Kediri. Saya tegaskan bukan uang dari calon Bupati dan Wakil Bupati, sebagaimana dilontarkan pada video. Itu hanya guyonan saja,"kata Hasyim.