Pasar lokal terbesar untuk maggot kering di antaranya wilayah Jabodetabek, Batam, Bali, dan Lombok. Sementara untuk maggot basah dijual pada kisaran harga Rp6.000 per kilogram banyak diserap oleh pembudidaya ikan di Banyumas, Pati, Kebumen, dan sebagainya.
"Pembudi daya udang di daerah Puring, Kebumen, yang mencoba menggunakan maggot, ternyata hasilnya bagus, setara dengan menggunakan pelet yang harganya sekarang mencapai Rp20.000, akhirnya mereka memilih maggot untuk mengurangi biaya produksi," kata Arky.
Untuk memenuhi permintaan budi daya udang di Puring mencapai 1 ton per hari, pihaknya bermitra dengan pembudidaya maggot di wilayah Yogyakarta untuk memenuhi kebutuhan tersebut mengingat di Banyumas belum ada pembudidaya maggot yang memiliki kapasitas produksi dalam jumlah besar.
Dalam memasarkan maggot, menggunakan dua perusahaannya yakni PT Aeromap Prosperindo Intenusa untuk pemasaran maggot kering dan CV Gilang Adi Wijaya untuk pemasaran maggot basah atau larva hidup.
Mengenai latar belakang pendidikannya yang bertolak belakang dengan bisnis maggot yang ditekuni saat ini, Arky mengatakan hal itu dilakukan atas dasar pengabdian dan kepedulian terhadap lingkungan khususnya di kampung halamannya.