Ada sedikit perbedaan dengan Dugderan, pada upacara Magengan warga harus melakukan bersih diri. Tak hanya sebatas raga, melainkan juga jiwa demi menjaga kesucian bulan Ramadan. Puncak tradisi ini ditutup dengan makan bersama sebagai rasa syukur dipertemukan kembali dengan bulan Ramadan.
5. Popokan
Tradisi Popokan juga masih dilestarikan warga Semarang. Tradisi melempar lumpur ini biasanya digelar pada Jumat Kliwon di bulan Agustus. Konon, tradisi ini dulunya berawal dari kisah seekor macan yang mendatangi daerah beringin.
Karena menganggu dan mengancam keselamatan warga, macan tersebut diusir menggunakan lumpur. Kini, tradisi Popokan dilakukan untuk menolak bala agar terhindar dari kejahatan dan hal buruk lainnya.
Itulah 5 tradisi Kota Semarang yang hingga kini masih tetap dilestarikan oleh masyarakat. Semoga ulasan tradisi Kota Semarang ini bisa menambah wawasan dan pengetahuan terkait adat dan budaya Nusantara.