Meskipun sulit untuk menentukan "terbesar" berdasarkan luas bangunan secara pasti, kedua kelenteng ini, Sam Poo Kong dan Tay Kak Sie, secara historis dan kultural merupakan kelenteng yang paling signifikan dan memiliki area kompleks yang luas di Semarang. Keduanya juga menjadi pusat kegiatan keagamaan dan daya tarik wisata utama di kota ini.
Kelenteng Grajen, yang juga dikenal sebagai Kelenteng Ibu Surga (Tian Shang Sheng Mu), memiliki sejarah yang cukup panjang. Meskipun catatan pasti mengenai pendiriannya sulit ditemukan, diperkirakan kelenteng ini telah berdiri sejak abad ke-19 dan menjadi salah satu pusat peribadatan penting bagi komunitas China di wilayah Grajen dan sekitarnya.
Kelenteng ini memiliki arsitektur khas Tiongkok dengan warna merah dan emas yang mendominasi. Selain altar utama untuk Tian Shang Sheng Mu (Ma Zu), dewi pelindung pelaut dan pedagang, terdapat juga altar untuk dewa-dewi lainnya seperti Hok Tek Ceng Sin dan Kwan Kong.
Kelenteng Grajen sering menjadi tempat berbagai upacara keagamaan dan perayaan tradisional China. Lokasinya yang strategis di pusat kota membuatnya mudah dijangkau.
Meskipun namanya berarti "Kuil Kebahagiaan Kecil," Kelenteng Siu Hok Bio memiliki peran yang signifikan dalam sejarah komunitas China di Semarang. Didirikan pada abad ke-19, kelenteng ini menjadi salah satu tempat ibadah penting, terutama bagi warga China yang tinggal di sekitar wilayah Kranggan.