Kemudian pada masa zaman Prabu Tajimalela, diganti menjadi Himbar Buana yang berarti menerangi alam, dan kemudian diganti lagi menjadi Kerajaan Sumedang Larang (Sumedang berasal dari kata Insun Medal Insun Medangan yang berarti aku dilahirkan; aku menerangi dan Larang berarti sesuatu yang tidak ada tandingannya).
Sejarah Sumedang kemudian berlanjut ke penguasa selanjutnya. Di saat berdiri Kerajaan Sumedang Larang, wilayah ini mengalami masa kejayaan dengan rajanya Pangeran Angkawijaya atau Prabu Geusan Ulun sekitar tahun 1578, dan dikenal luas hingga ke pelosok Jabar dengan daerah kekuasaan meliputi:
a. Wilayah selatan sampai dengan Samudra Hindia.
b. Wilayah utara sampai Laut Jawa.
c. Wilayah barat sampai dengan Cisadane.
d. Wilayah timur sampai dengan Kali Brebes, Kabupaten Brebes.
Sejarah Sumedang selanjutnya terjadi perubahan di saat menjadi vasal (anak kerajaan) dari Kesultanan Cirebon, yang kemudian berada di bawah kendali Kesultanan Mataram, pada masa Sultan Agung.
Dalam strategi penyerangan Sultan Agung ke Batavia wilayah Sumedang dijadikan wilayah penyedia logistik pangan. Selain itu, aksara Hanacaraka juga diperkenalkan di wilayah Parahyangan pada masa ini, dan dikenal sebagai Cacarakan.