"Tentunya sesuai syariat, yang baik akan kami teruskan yang kurang akan kami sempurnakan. Dalam waktu sebulan ada kepengurusan baru dan ada semangat sila kelima (Pancasila), ini akan menjadi dasar perjuangan dari ADPM di masa depan yang mewakili seluruh bagian NKRI,” ujar Kang Emil.
Sebagai Ketum ADPM, Kang Emil pun mengantisipasi sumber energi terbarukan biofuel atau bahan bakar nabati (BBN). Biofuel merupakan energi yang terbuat dari materi hidup, biasanya tanaman, kotoran hewan, atau sampah domestik, dan termasuk ramah lingkungan karena rendah karbon serta mengurangi peran dari bahan bakar fosil.
"Saya kira intinya kita harus mengantisipasi teori baru dalam energi terbarukan, yang muncul ke permukaan misalnya ada Biofuel, dengan tanpa meninggalkan apa yang ada di depan mata yang dalam hitungan masih ada dalam 30-50 tahun ke depan," tutur Gubernur Jabar.
Pelaksanaan Munas ADPM akan dilaksanakan di Jabar dengan agenda membentuk kepengurusan ADPM periode 2020-2025. Dalam acara itu, turut dibahas beberapa potensi wilayah penghasil migas di Jawa Barat.
"Intinya membentuk kepengurusan dari organisasi ADPM yang lebih baik lagi. Kita perbanyak kata kolaborasi, kurangi rasa kompetisi. Sesuai amanat, satu bulan dari sekarang kita akan umumkan kepengurusan," kata Kang Emil.
Isran Noor, Ketum ADPM terdahulu mengatakan, optimistis kepengurusan ADPM yang dipimpin oleh Kang Emil selama lima tahun ke depan akan lebih baik dan sukses.
Pemilihan Ketum ADPM, kata Isran, dilaksanakan dengan musyawarah mufakat. Kang Emil menjadi satu-satunya kepala daerah yang memberanikan diri mengemban amanat untuk memimpin daerah-daerah penghasil migas se-Indonesia ini. "Harapannya, pasti lebih bagus dan memimpin dengan selesai," kata Isran Noor.