"Jabar termasuk yang tinggi (kasus COVID-19). Diminta ada perhatian khusus oleh Bapak Presiden. Ini sebagian (kasus) dari arus balik pascamudik. Kita tahu banyak sekali pemudik yang bandel, nekat, yang kemudian kembali ke wilayah tempat tinggal awal dan membawa oleh-oleh Covid-19 dan menciptakan klaster keluarga," kata Muhajir.
"Termasuk manten (acara pernikahan) karena setelah Lebaran. Mungkin waktu mudik dapat jodoh, kemudian manten, jadilah klaster-klaster akibat dari pesta penganten," ujarnya.
Menko PMK juga menyoroti klaster ziarah di beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Menurutnya, lonjakan kasus COVID-19 di dua provinsi tersebut banyak yang berasal dari klaster ziarah.
"Seperti yang diumumkan Kemenkes, yaitu (varian Covid-19 baru) Delta yang berasal dari India, sudah masuk ke wilayah Indonesia. Karena itu, mohon betul-betul dapat perhatian, mematuhi prokes, menambah daya tahan tubuh. Jangan sekali-kali mengabaikan protokol kesehatan," tutur Menko PMK.
"Taruhan kita saat ini mau disiplin atau tidak. Kalau tidak disiplin, hukumannya sangat menyakitkan yaitu berkembang biak Covid tidak terkendali," lanjut Muhadjir menegaskan.
Disinggung mengenai usulan Ridwan Kamil terkait peniadaan libur Idul Adha, Muhadjir menyatakan, rencana penetapan libur Idul Adha masih dalam tahap pembahasan.
"Sudah ada rapat kemarin untuk membahas hari libur, baik itu cuti bersama maupun perorangan sampai bulan Desember, tapi hasilnya tunggu nanti akan diumumkan tersendiri. yang jelas sudah jadi agenda pemerintah sesuai dengan perintah Bapak Presiden," ucap Muhajir.