Lokatmala Nite, Gerakan Kebudayaan dan Ekspresi Pemenuhan Ruang Batin Publik Cianjur

Agus Warsudi
Wina Rezky Agustina, pendiri Yayasan Kebudayaan Lokatmala Indonesia atau Lokatmala Foundation. (FOTO: ISTIMEWA)

“Ibarat usai silanglang di batu dongdang, energi baru merekah berkah sehingga siapa pun yang mencapainya segan pulang sebelum membawa mustika itu di mana pun. Mustika itu adalah kepribadian bangsa yang terurai dalam ragam budaya agung yang dimiliki bangsa ini,” tutur Wina.

Dia berharap kehadiran Yayasan Kebudayaan Lokatmala Indonesia bisa memantik kreativitas baru dan menularkannya kepada yang lain. Menjadi virus positif untuk tumbuhnya jejaring kekuatan baru dalam derap langkah kebudayaan yang kadang terseok karena nihilnya keberpihakan kepada jati diri bangsa yang sesungguhnya.

“Saatnya kita membangun karya. Karya yang bisa kita kerjakan meskipun dalam ritmis kecil dan temaram lilin kemasygulan. Kita terus bekerja untuk kebudayaan dengan jalan lurus kesungguhan. Malam ini kami mulai dengan Bismillah, dan doakan kami mencapainya!” ucap Wina.

Berikut syair tembang Lokat Mala dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia yang dibacakan dan dinyanyikan Wina dalam acara Lokatmala Nite:

Lokat Mala

Gunung Gedé geusan nyarandékeun haté
(Gunung untuk menyandarkan hati)
Pangrango kuring ngadago
(Pangrango daku menanti) 
Gunung Guruh da kuring mah henteu jauh
(Gunung Guruh aku ini tidak jauh) 
Kaleuit Salawéjajar
(pada leuit dua puluh lima jajar) 
Aduh lucu Alun-alun luhur gunung
(Aduh indah Alun-alun di atas Gunung)
Matak betah sarwa éndah
(Membuat betah serta indah)
Lokatmala marakbak baranang siang
(Lokatmala gemerlap gemilang cerlang)
Aduh manis jeung cantigi
(Adu manis dengan cantigi)
Ku napsu mah matak sungkan mulang
(Andai menuruti nafsu tentu akan
segan pulang)
Hayang ngahenang-ngahening
(Ingin tenang serta damai)
Ngahiyang di Batu dongdang
(Moksa di Batu Dongdang)
Silanglang di jamban hérang
(Berenang di air bening)
Moal mulang lamun teu acan kabandang
(Tak akan pulang kalau belum memetik mustika mandala wangi)
Rék lahlahan tatapa luhureun kawah
(Akan segera bertapa di atas kawah)
Malar hate henteu siwar
(Agar hati tetap tegar)

Penerjemah: Godi Suwarna, 10 Juni 2021, Sumber : Tesis S2 ISBI Bandung atas nama Neng Wina Resky Agustina @winarezkyagustina

Editor : Agus Warsudi
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Dinilai Lalai, Sopir Truk Kecelakaan Maut Tewaskan 5 Orang di Cianjur Jadi Tersangka

57 tahun lalu

Kakek Cabul di Karang Tengah Cianjur Ditangkap, Diduga Lecehkan Balita Tetangganya

57 tahun lalu

Gadis Cantik asal Cianjur Ini Hilang Usai Dibawa Lelaki yang Baru Dikenalnya

57 tahun lalu

Miris, Siswa SDN Sukagalih Cianjur Belajar di Bawah Pohon karena Tak Punya Kelas

57 tahun lalu

Innalillahi, Jasad Nelayan Tenggelam di Waduk Cirata Cianjur Ditemukan Mengambang

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal