Lokatmala Nite, Gerakan Kebudayaan dan Ekspresi Pemenuhan Ruang Batin Publik Cianjur
“Lokatmala artinya adalah bunga namun langka, yakni, bunga Edelweiss yang hanya ada di puncak gunung-gunung tinggi. Tak ada Eledweis yang tumbuh di dataran rendah. Kalaupun ada, pasti itu Edelweis plastik atau Edelwies yang dikeringkan,” tutur Wina.
Edelweis, sebut Wina, sering dimaknai sebagai ketenaran, ketenangan, mulia, dan abadi. Namun bila tulisannya dipisah menjadi Lokat dan Mala mengandung arti membersihkan segala sesuatu yang tidak baik. Lokat dalam bahasa Sunda berarti membersihkan dan Mala memiliki arti bencana dan wabah. "Jadi Lokat Mala memiliki arti secara harfiah yakni membersihkan diri dari bencana, wabah atau hal-hal yang tidak baik atau buruk," ucapnya.
Wina menyatakan, lirik atau rumpaka tembang Sunda Cianjuran atau mamaos berjudul Lokat Mala karya Bakang Abubakar yang diciptakan pada 1980, menceritakan tentang keindahan alam Gunung Gede Pangrango.

"Tembang ini, menginspirasi betapa romantika dan refleksi kehidupan penuh kesadaran, pemenuhan ruang batin, sekaligus ekspresi bagi upaya pemaknaan diri. Itu lah jalan kebudayaan yang senantiasa diperjuangkan oleh Lokatmala Foundation, hari ini juga nanti,” ujar Wina yang dalam pidatonya iringan musik secara live.
Tembang Lokat Mala, tutur Wina, telah menginspirasi dan membangun gairah bagi pertumbuhan dan perjumpaaan kebudayaan bagi dirinya selaku salah satu pendiri Lokatmala Foundation.