Emil berharap, kehadiran PSC 119 dan Layad Rawat dapat mempercepat penanganan dan pertolongan pada masyarakat yang membutuhkan. Saat ini, sudah seharusnya negara mendatangi masyarakat, bukan masyarakat yang mendatangi negara, terutama untuk masalah-masalah darurat. “Ini adalah awal dari pengembangan yang akan dibawa ke seluruh Jawa Barat selama lima tahun ke depan,” ujarnya.
Terkait biaya, Emil mengungkapkan setiap tahun akan dihitung dan disesuaikan dengan wilayah yang siap. Siap berarti tenaga dokternya tersedia dan tenaga medisnya cukup. Sementara untuk tahun depan, telah disiapkan dana dari APBD Jabar sekitar Rp200-an miliar untuk melengkapi program Home Medicare ini.
“Program ini akan membuat antrean di rumah sakit berkurang, biaya BPJS berkurang. Dengan program yang proaktif ini, mudah-mudahan indeks kesehatan warga akan jauh lebih meningkat dan warganya lebih bahagia karena negara hadir secara responsif” papar Gubernur.
Sementara Penjabat (Pj) Wali Kota Cirebon Dedi Taufik mengatakan, akan bekerja sama dengan bupati/wali kota se-Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan) agar layanan layad rawat dengan PSC 119 Cirebon bisa menjangkau wilayah tersebut. “Kami ingin juga menjangkau dan membantu memberikan pelayanan gawat darurat,” kata Dedi.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon Edy Sugiarto mengatakan, pihaknya secara spesifik telah melatih 1.300-an orang awam untuk bekerja di layanan ini. “Mereka yang pertama kali mendatangi TKP dan harus sampai sekitar 10-15 menit. Terkait gedung PSC, alhamdulillah dengan dorongan Pak Pj (Wali Kota) kini hadir gedung yang representatif,” katanya.