Namun, bukan berarti kendala tak pernah ada. Beberapa kali turbin mengalami kerusakan karena kondisinya yang sudah tua. Selain itu, jika musim kemarau panjang tiba dan menyebabkan debit air sungai berkurang, pasokan listrik ke rumah warga pun akan terganggu.
Jika hal ini terjadi, warga pun harus rela tak bisa menikmati listrik untuk sementara waktu. Warga harus kembali menggunakan penerangan dari lampu minyak kala malam tiba.
Untuk mencegah kerusakan turbin, warga rutin melakukan perawatan dan pemeliharaan. Dananya berasal dari iuran sebesar Rp20.000 yang dibayarkan warga Kasepuhan Ciptagelar setiap bulan. Iuran tersebut juga untuk pembelian suku cadang jika ada kerusakan pada turbin.
Salah satu warga Kasepuhan Ciptagelar, Icah, mengaku senang dengan adanya listrik di kampungnya. Sebab, dia bisa menggunakan peralatan elektronik dan menghemat biaya.
"Dulu kami mengalami pakai lampu harus beli minyak tanah. Sekarang lebih irit karena ada listrik. Sebulan hanya Rp20.000," ujar Icah.