Prof Dadang menuturkan, pada 2016, Tim Peneliti Program Studi Pendidikan Ekonomi FPEB pernah melakukan penelitian yang melibatkan responden guru-guru ekonomi di Kota Bandung.
Hasilnya, tutur Prof Dadang, menunjukan hanya 46 persen guru yang pernah mencoba menerapkan pendekatan dan model pembelajaran berbasis KBTT sesuai harapan Kurikulum 2013.
Demikian pula, dalam aspek evaluasi pembelajaran. Penelitian yang dilakukan dalam rentang waktu 2017-2018, melaporkan bahwa sebanyak 80 persen guru ekonomi mengalami kesulitan dalam mengembangkan instrumen untuk mengukur KBTT. "Berdasarkan persepsi siswa, hanya 8 persen soal yang dibuat guru dapat mengukur KBTT," tutur Prof Dadang.
Dilaporkan pula, hanya 12 persen soal yang dibuat guru yang berada pada jenjang kognitif tinggi. Sedangkan 88 persen lainnya berada pada jenjang kognitif rendah dan menengah. Temuan ini merefleksikan adanya defisit kompetensi guru dalam mengembangkan instrumen penilaian berbasis KBTT.
"Karena itu, kita harus bekerja keras untuk mengejar ketertinggalan dengan membuat perencanaan dan penerapan KBTT. Kemudian meningkatkan SDM tenaga pengajar," ucap Prof Dadang.