"Ngangkut kotoran ayam Pak dari Tanggerang mau ke Ciwidey, Bandung," ujar sopir.
Setelah sedikit mengobrol kemudian mereka bertukar tempat, kernet disuruh naik ke mobil Dedi Mulyadi. Sedangkan mantan Bupati Purwakarta itu menemani sopir di dalam truk pengangkut kotoran ayam.
Selama perjalanan keduanya pun terlibat percakapan hingga akhirnya Dedi menanyakan siapa membuat lukisan dirinya di bagian belakang truk. Sopir pun menjawab lukisan itu dibuat atas inisiatif majikannya yang memiliki truk tersebut bernama H Deni. Mendapat informasi itu Dedi pun langsung video call dengan H Deni.
Sejurus kemudian, Dedi meminta sopir berhenti di suatu tempat untuk sekadar mengobrol dengan mereka. Dalam obrolan itu, sopir curhat mengenai tingginya beban yang harus ditanggung sopir saat terjadi kenaikan BBM.
"Meskipun BBM naik, ongkos angkut tidak ikut naik pak. Dengan kenaikan BBM ini, saya kehilangan Rp400.000 untuk biaya BBM. Seharusnya uang itu bisa dibawa pulang ke rumah. Dengan kondisi seperti ini, paling saya mendapat uang Rp250.000 untuk dua hari bekerja," kata sopir.
Mendengar curhatan sopir seperti itu Dedi menyebutkan, kenaikan BBM telah memberikan beban berat bagi warga miskin seperti sopir truk. Mereka harus kehilangan pendapatan gegara penghasilannya dialokasikan untuk kebutuhan BBM armada.
Aksi Dedi Mulyadi tersebut direkam kemudian diposting di akun media sosialnya. Postingan itu menggambarkan kesulitan dan beban masyarakat kecil di saat naiknya harga BBM.