Sebelum melihat video itu, mereka menerima surat pernyataan dari sekolah yang dibawa MR, setelah pemukulan. Dari situ pula mereka awalnya mengetahui MR menjadi korban kekerasan IM.
Adapun isi surat pernyataan itu, “dengan ini saya menyatakan bahwa tidak akan membahas dan melakukan tuntutan atas peristiwa yang terjadi pada hari Selasa, 11 Februari 2020. Dan di kemudian hari bisa menjadi lebih baik lagi. Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sadar dan tanpa paksaan dari pihak manapun.”
Di bawahnya tertera Waka Kesiswaan Idianto Mu'in, orangtua/wali murid, dan siswa terkait, namun belum dibubuhkan dengan tanda tangan. Kemudian kepala sekolah SMAN 12 Bekasi Nani Nuraini.
Surat dan video yang beredar itu membuat orang tua MR kesal dan kecewa. Sebab, sejak kejadian itu, IM tidak pernah menghubungi mereka untuk meminta maaf atas kekerasan yang dilakukan terhadap putra mereka.
“Enggak ada permintaa maaf, menelepon atau bagaimana. Kami mau ngambil jalur hukum. Lebih cepat lebih baik,” ujarnya.
Ibu korban, Siti Nuraini juga mengaku hingga kini merasa sakit hati atas kejadian yang dialami putranya MR. Dia tidak menyangka putranya dipukuli sekeras itu dan terjadi di hadapan siswa-siswa lain.
“Akhlaknya enggak ada. Saya lihat videonya, memukulnya enggak pantas, kayak mukul maling. Kan hukumannya enggak harus seperti itu, kekerasan. Sampai sekarang bahkan enggak ada mintaa maaf. Kalau memang dia guru bagus, dia bertanggung jawab dong, minta maaf dong,” ujarnya.