"Sehingga anggaran yang memang sifatnya cukup tetapi masih perlu ditingkatkan karena pengadaan alat kontrasepsi ini kan masih butuh untuk ditingkatkan kualitas dan kuantitasnya. Kami pun harus sudah melakukan pengadaan alat kontrasepsi untuk tahun 2024," tutur dia.
Kepala BKKBN mengatakan, angka kehamilan di Indonesia masih cukup tinggi. Setiap tahun kehamilan mencapai 4,8 juta atau sama dengan satu negara Singapura. Di sisi lain, angka pernikahan juga tinggi mencapai rata-rata 1,9 juta pernikahan.
"Sayangnya, dari 4,8 juta kehamilan, 20 persen atau sekitar 1,2 juta berpotensi staunting baru. Karena itu apabila kita tidak melakukan pencegahan, stunting yang lama teratasi dan yang baru lahir kembali," ucap Hasto Wadoyo.
Kepala BKKBN berharap bisa menekan angka stunting melalui penggunaan alat kontrasepsi. Karena salah satu masalah stunting adalah jarak kehamilan yang terlalu dekat.
Sementara itu, pada kegiatan tersebut juga dilakukan pemberian penghargaan kepada kader yang telah berhasil mengajak akseptor dari seluruh Indonesia. Juga dilakukan kunjungan ke Klinik Siliwangi dan Posyandu dengan memberikan bantuan pengentasan stunting secara simbolis. Turut hadir Ketua Umum Persit Kartika Chandra Kirana Rahma Setyaningsih Dudung Abdurachman.
Dalam sambutan tertulis KSAD Dudung Abdurachman mengatakan, pentingnya perencanaan keluarga untuk mengentaskan masalah stunting. Apalagi, penggunaan alat kontrasepsi turun dari 57,9 jadi 57,2 persen. Salah satunya karena kurangnya pengetahuan akan penggunaan alat kontrasepsi modern.
"Kami ajak masyarakat akan pentingnya perencanaan keluarga. Melalui penggunaan alat kontrasepsi. Dengan perencanaan keluarga yang matang, akan meningkat kesejahteraan mental dan mengatur finansial," kata KSAD.