Sehingga, tambah dia, tidak mengherankan jika petani menjadi sasaran empuk para rentenir. "Padahal bagi mereka besaran bunga enggak masalah. Yang jadi masalah kemudahan aksesnya," ujarnya.
Menurut Kang Emil, rendahnya produktivitas pangan di Jabar salah satunya karena semakin sedikitnya jumlah petani. Menurut dia, saat ini 75% petani sudah berusia di atas 45 tahun. Sementara anak-anak muda tidak ingin menjadi petani.
Oleh karenanya, pihaknya menggagas program 1.000 petani milenial untuk menumbuhkan minat bertani di kalangan anak muda. Nantinya, petani muda akan diberi lahan untuk digarap menjadi kawasan pertanian. Lahan yang tidak terpakai milik pemda, akan dipinjamkan kepada petani milenial 1 hektare per orang.
Sementara itu, Kepala Kantor Bank Indonesia Jawa Barat Herawanto mengatakan, potensi krisis pangan global meningkat akibat perubahan kondisi makroekonomi, lingkungan, energi, harga input, serta harga pasar. Kondisi itu mempengaruhi jumlah produksi pangan global, ditambah dengan kendala distribusi akibat kebijakan pembatasan dalam rangka pengendalian pandemi.
"Sektor pertanian penting sebagai salah satu sektor ekonomi yang diprioritaskan untuk segera dipulihkan karena merupakan penyumbang ekonomi terbesar ke-3 di Jawa Barat setelah industri pengolahan dan perdagangan. Di mana, sektor tersebut menunjukkan trend pertumbuhan meningkat," kata Herawanto.
Di masa pandemi, ujarnya, sektor ini bahkan menjadi salah satu sektor yang masih mampu tumbuh positif. Pada 2021 mendatang, kinerja sektor pertanian tentunya harus terus diusahakan tetap terjaga.
Dalam rangka memitigasi risiko krisis pangan global, kata Herawanto, perlu mengambil langkah strategis untuk menjaga ketahanan pangan. Mulai dari mendorong kualitas dan produktivitas produksi pertanian melalui berbagai penggunaan teknologi, menjaga kelancaran distribusi pangan, stok pangan yang mencukupi kebutuhan konsumsi, dan inflasi pangan agar terkendali dan stabil.