Dia juga tidak segan memenggal kepala residen di Bangka, MAP Smissaert. Tindakannya yang berani dan pantang menyerah membuatnya sangat ditakuti. Di laut, Depati Barin bersama dengan bajak laut melakukan perampokan-perampokan terhadap kapal Belanda bermuatan timah, garam dan rempah.
Ketika Belanda berhasil menjinakkan Depati Barin melalui perdamaian dan pemberian hak istimewa, perlawanan justru dilanjutkan oleh anaknya, Depati Amir.
Yang membuat Belanda sangat kewalahan menghadapi Depati Amir adalah bentuk perlawanannya yang lebih modern dari sang ayah. Dia tidak hanya mengandalkan senjata dan rampok-rampokan. Lebih dari itu, dia mengorganisir warga untuk melawan Belanda.
Belanda sangat takut dengan pengorganisiran yang dilakukan Depati Amir, karena sifatnya yang secara terbuka anti-kolonialisme. Hal ini membuat Belanda meminta bantuan militer dari Palembang dan Batavia, pada 1850.
Gerakan protes dan perjuangan Depati Amir sangat kuat, karena dia berhasil menggabungkan dua kelompok etnik yang berbeda. Dia tidak hanya memobilisasi warga Melayu, tetapi juga golongan Tionghoa yang menjadi kuli parit tambang. Perlawanan Depati Amir terhadap Belanda berlangsung dalam rentang 1830-1851.