Dalam bahasa Gayo, disebut Marah, seperti Marah Silu, Pendiri Kerajaan Samudera Pasai. Namun, seiring dengan kedatangan agama Islam, gelar Meurah ini diganti menjadi Sultan.
Teungku
Gelar selanjutnya yaitu Teungku. Gelar ini digunakan untuk menyapa golongan orang yang berilmu.
Namun, ada pula pendapat berbeda yang menyatakan bahwa Teungku digunakan untuk menyapa para santri yang bukan ulama, dipergunakan juga untuk menyapa mualim, atau bisa juga dipergunakan untuk pria dan wanita yang memberi pengajaran dasar mengaji Al-Quran.
Dari beberapa sumber dan pendapat tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa Teungku adalah panggilan untuk menyapa orang yang berilmu.
Teuku
Teuku terkadang sering disamakan dengan Teungku. Padahal dua gelar ini memiliki maksud dan tujuan sapaan yang berbeda. Teuku adalah gelar ningrat atau bangsawan untuk kaum pria di Aceh yang memimpin wilayah Nanggroe atau Kenegerian.