“Biasanya fenomena ini terjadi karena dia baru saja mendapatkan mobil baru yang memang telah diakui lebih baik atau bernilai tinggi. Bahkan, seorang sopir saja bisa berperilaku arogan karena mereka bertindak di bawah alam sadar,” ujarnya.
Menurut Jusri, kondisi seperti itu sebenarnya normal tapi tidak dapat dibenarkan karena dapat membahayakan orang lain. Namun, sangat sulit untuk menghilangkan hal tersebut karena menjadi sifat alami manusia.
“Ada suatu pola pikir yang membentuk karakter untuk menjadikannya arogan saat di jalan. Sama saja seperti suporter sepak bola ketika klub kesayangannya menang atau kalah, secara psikologis mereka bisa meluapkan emosinya di jalan,” katanya.
Bagaimana bila bertemu dengan pengendara SUV arogan? “Pengguna jalan lain seharusnya bersabar (defensive driving) ketika menemukan perilaku pengendara mobil SUV seperti itu. Kita tidak bisa menilai perilaku seseorang, karena jika terbawa emosi bisa melakukan tindakan di luar kendali,” ujarnya.
Dia mengingatkan jangan sampai terjadi konflik karena akan berbuntut panjang. Jika sama-sama emosi tidak akan ada yang mau mengalah dan mengakui kesalahan.