Meski demikian, Sri Agung menyatakan Daihatsu akan tetap fokus pada produk yang sesuai dengan segmennya, yaitu pembeli first buyer (mobil pertama). Sebab, sampai sekarang pasar mobil Indonesia masih didominasi first car buyer.
Di sisi lain, Sri Agung juga menyoroti Non Performing Loan (NPL) alias permasalahan pembayaran pinjaman yang masih tinggi di perusahaan pembiayaan kendaraan meski BI Rate telah disesuaikan. Ini membuat leasing lebih berhati-hati sehingga memengaruhi penjualan mobil.
Kondisi ini terjadi karena gejolak ekonomi yang sangat memengaruhi daya beli masyarakat terutama di level menengah ke bawah. Di samping itu, dolar AS terhadap rupiah juga naik.
“Industri otomotif berada di level ketiga setelah sandang dan pangan. Jadi, pengaruhnya cukup besar,” kata Sri Agung.
Untuk itu, lanjut dia, Daihatsu tetap akan fokus menghadirkan kendaraan dengan banderol kompetitif sesuai sasaran pasar first buyer. “Kondisi pasar makro tidak terlalu baik, mikro juga kena. Termasuk di first car buyer,” ujarnya.
Saat ini, penjualan Daihatsu ditopang mobil Low Cost Green Car (LCGC) yang dilego di bawah Rp200 jutaan. Di samping itu mobil niaga ringan Gran Max PU menjadi penompang penjualan Daihatsu di Indonesia.