Namun, Samsung dan Toyota menemukan tantangan untuk memaksimalkan kinerja baterai tersebut. Pengisian super cepat pada baterai tersebut memerlukan infrastruktur khusus, seperti pengisi daya sebesar 480 kW hingga 600 kW yang saat ini jarang tersedia, bahkan di China.
Selain itu, biaya produksi baterai solid-state tiga kali lipat lebih mahal dibandingkan baterai lithium-ion dan LFP yang digunakan saat ini. Sebab itu, Toyota memulai dengan Lexus yang memiliki margin keuntungan lebih tinggi.
Meski saat ini baterai solid-state mahal dan membutuhkan teknologi khusus, perkembangannya sangat positif. Sama seperti perangkat SSD yang awalnya mahal dan kini umum digunakan pada perangkat komputer dan laptop.
Baterai solid-state memiliki potensi menjadi standar di masa depan. Membawa manfaat besar bagi industri EV dan masyarakat luas.