Nikel misalnya, konsentrasi nikel dalam urin penduduk Kabaena berkisar antara 4,77 hingga 36,07 µg/L, dengan rata-rata 16,65 µg/L. Nilai ini jauh melampaui kadar normal pada populasi umum.
"Dengan kata lain, masyarakat Kabaena terpapar nikel sebesar 5 hingga 30 kali lebih tinggi dibandingkan populasi umum," papar laporan Satya Bumi.
"Fakta ini menunjukkan adanya paparan lingkungan yang ekstrem, yang tidak hanya merata secara geografis tetapi juga intens secara biologis," tambah laporan tersebut.
Bicara soal dampak buruk paparan nikel, dr Dicky menerangkan bahwa dampak awal paling umum dari kontaminasi nikel yang terpapar melalui debu adalah gangguan saluran pernapasan dan reaksi alergi.
"Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) paparan nikel kronik ini bisa berpotensi menyebabkan peningkatan risiko kanker dan stres oksidatif, juga disfungsi sel beta pankreas yang dapat memicu risiko diabetes melitus tipe 2," ujar dr Dicky.