Dewi menyebut, pihak TNI meminta kepada keluarga korban agar permasalahan diselesaikan secara kekeluargaan, tidak melapor ke mana pun, dan melarang memviralkan insiden tersebut.
Pada hari yang sama pukul 20.00 WIB, kata dia, Darrell dijadwalkan menjalani operasi pengangkatan peluru dan pemasangan pen. Namun, sekitar 35 menit setelah Darrell masuk ruang operasi, keluarga dipanggil oleh seorang perwakilan Marinir yang mempermasalahkan pilihan kamar VIP B untuk Darrell.
Padahal, kata Dewi, salah satu perwakilan TNI bernama Perwira Siregar sempat mengatakan kepada pihak rumah sakit agar korban mendapat pelayanan maksimal.
"Dia menyatakan bahwa saya seolah-olah memanfaatkan kesatuan dengan meminta kamar VIP B. Disitu saya menyampaikan bahwa saya mengambil tipe itu menyesuaikan kemampuan dan kenyamanan saya, kalau saya mau memanfaatkan, saya pasti akan ambil VIP A atau VVIP," ujarnya.
Akibat perdebatan itu, operasi pun tertunda selama 35 menit dan Darrell baru bisa keluar ruang operasi pada pukul 23.30 WIB menjelang tengah malam. Keributan kembali terjadi pada pukul 00.00 WIB, saat seorang anggota yang memperkenalkan diri sebagai Mayor Tri mendatangi kamar rawat Darrell.
Mayor Tri memaksa agar peluru yang baru saja diangkat dari lengan Darrell diserahkan ke kesatuan Marinir dan tidak boleh disimpan rumah sakit.
"Saya bilang, 'Bapak, biarkan peluru itu ada di rumah sakit sampai permasalahan ini clear. Boleh mengobservasi namun jangan diambil, Pak, karena itu adalah barang bukti'," ungkap Dewi.