Tekanan kurs membuat Daihatsu harus memutar otak untuk menahan lonjakan biaya produksi. ADM kini melakukan restrukturisasi biaya dan efisiensi di lini manufaktur demi menjaga harga kendaraan tidak langsung melonjak di pasar.
"Jadi kita lakukan beberapa hal. Pertama, kita restructure biaya dan melakukan efisiensi di manufacturing kita," katanya.
Tak hanya itu, Daihatsu juga mulai bergerak mencari jalan keluar dengan mempercepat pengembangan komponen lokal. Langkah tersebut dilakukan agar ketergantungan terhadap produk impor bisa ditekan saat dolar AS terus menguat.
"Lalu yang kedua, kita ada pembahasan juga dengan total supply chain kita. Untuk mencari solusi dalam pengembangan lokalisasi, dari beberapa part impor. Bukan part ya, tepatnya mungkin komponen," ujar Sri Agung.
Dia mengakui, jika pelemahan rupiah terus berlanjut maka tekanan terhadap industri otomotif akan semakin besar. Menurut dia, kondisi ini bukan hanya dialami Daihatsu, tetapi juga seluruh produsen otomotif yang beroperasi di Indonesia.