Masa Politik Pasca-kebenaran

Nur Wijaya Kesuma

Ketiga, perkuat literasi masyarakat. Stuart Sim dalam buku “Manifesto for Silence” (2007) mengungkapkan ada aspek pendidikan untuk dijelajahi, yakni kesadaran atas kebisingan. Oleh karena itu, kita harus berusaha lebih keras untuk membedakan fakta kebenaran dari realita yang dibuat. Jangan berharap kesempurnaan. Tidak ada politisi yang mengatakan kebenaran secara keseluruhan, tetapi beberapa politisi masih jauh lebih baik daripada yang lain.

Yang terakhir, tingkatkan interaksi sosial di era media sosial. Interaksi sosial merupakan suatu pondasi dari hubungan yang berupa tindakan yang berdasarkan norma dan nilai-nilai sosial di masyarakat. Kembalikan budaya timur yang kita anut sejak masa sejarah nusantara yang dikenal sebagai bangsa yang berkepribadian baik, ramah dan bersahabat.

Berbeda pendapat dalam demokrasi adalah hal yang lumrah. Tapi, kita harus mampu dan belajar seperti proklamator kita. Meskipun memiliki pandangan dan pemikiran politik yang berbeda secara substansi, tapi hubungan mereka kekal hingga akhir hayatnya.

Editor : Zen Teguh
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Dorong Kualitas Keterwakilan Perempuan 30%, Partai Perindo Siap Bersinergi Lahirkan Kebijakan Nasional yang Inklusif

57 tahun lalu

Prabowo: Saya Kalah 4 Kali, Tapi Tak Ganggu Pemimpin

57 tahun lalu

Threshold DPRD Dinilai Reduksi Demokrasi Lokal, Gardian Muhammad Minta Reformasi Politik Substantif

57 tahun lalu

Komisi II DPR Dorong Penerapan E-Voting untuk Pemilu di Luar Negeri, Antisipasi Penyalahgunaan Suara

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal