Pria yang dikenal sebagai Wahyudi Aksara, seorang content creator edukasi dengan puluhan ribu followers di sosial media ini menuturkan bahwa Indonesia sudah hebat untuk menuntaskan buta aksara, namun masih belum menanamkan nilai membaca.
“Untuk mampu menulis, siswa harus gemar membaca terlebih dahulu,” ucapnya.
“Nah, dari membaca, perbendaharaan kosakata mereka (siswa) banyak. Ide-ide dan inspirasi itu akhirnya tumbuh dari sana. Bukan murid kita itu tidak kreatif, mereka hanya kurang bahan bakar, bahan bakarnya adalah bacaan,” tutur Wahyudi.
Dari deret diksi, untuk proses menginterpretasi dibutuhkan pemahaman yang sangat mendalam untuk berpikir kritis. Ketika para siswa ingin membuat sesuatu, mereka harus membaca berbagai literatur yang ada untuk memahami, membandingkan, menganalisis, mengimplementasikan, hingga akhirnya dapat mengkreasikan dan mencipta.
Level kognitif yang dibutuhkan memiliki banyak layer. Jika dilihat dari Taksonomi Bloom dari C1 sampai C6, yakni mengingat, menyebutkan, mengimplementasikan, menganalisis, mengkreasikan, dan akhirnya mencipta, soal-soal kognitif di sekolah Indonesia masih sangat kurang.