Siti pun segera membawa putranya ke rumah sakit. Berbagai pemeriksaan dilakukan, mulai dari tes urine hingga tes darah. Hasilnya menunjukkan kadar albumin kerap turun sehingga harus dilakukan transfusi.
“Diambil pipis pertama gitu ya. Terus diambil darahnya. Terus albuminnya sering turun. Jadi ditransfusi albumin,” tuturnya.
Dokter mendiagnosis anaknya mengalami nefrotik sindrom atau kebocoran ginjal. Seiring waktu, kondisinya berkembang menjadi gagal ginjal sehingga mengharuskan sang anak menjalani hemodialisis secara rutin dua kali dalam sepekan.
Sudah dua tahun terakhir, Siti bolak-balik Bogor–Jakarta untuk memastikan anaknya mendapatkan terapi terbaik di RSCM. Dalam sebulan, sedikitnya delapan kali prosedur cuci darah dijalani. Jika ditotal, jumlahnya sudah ratusan kali.
“Di RSCM sudah 2 tahun sih, nggak tahu berapa kalinya, karena banyak ya,” ujarnya.