Hal ini kemudian berakibat pada asymmetry yang semakin besar. Keterlambatan CTSM menonaktifkan autothrottle itu menyebabkan perbedaan tenaga mesin semakin besar, serta membuat pesawat yang harusnya berbelok ke kanan malah berbelok ke kiri.
Kondisi tersebut merupakan konfirmasi bias yaitu kondisi di mana seseorang mempercayai informasi yang mendukung opini atau asumsinya.
Faktor berikutnya adalah karena kepercayaan atau complacency pada otomatisasi bias mungkin telah mengakibatkan berkurangnya monitoring.
Sehingga, tidak disadari adanya asymmetry dan penyimpangan arah penerbangan.
Pesawat yang seharusnya berbelok ke kiri justru berbelok ke kanan. Sementara itu, kemudi miring ke kanan serta kurangnya monitoring mungkin telah menyebabkan asumsi pesawat berbelok ke kanan, sehingga tindakan pemulihan yang dilakukan tidak sesuai.
Belum adanya aturan serta panduan terkait Upset Prevention and Recovery Training (UPRT) akan mempengaruhi proses pelatihan oleh maskapai guna menjamin kemampuan serta pengetahuan pilot dalam mencegah dan memulihkan kondisi upset secara efektif dan tepat waktu.
Itulah faktor yang menyebabkan kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ 182 menurut KNKT.