Tjitjik menjelaskan, teknologi AI yang digunakan mampu melacak rekam jejak seseorang yang menjadi joki ujian di setiap tahunnya.
“Kita juga melakukan deteksi AI wajah itu dengan misalnya peserta tahun yang lalu. Ternyata kan ada modus-modus yang joki tahun lalu ternyata sekarang juga menjadi joki lagi,” kata Tjitjik.
Sementara itu, Wakil Rektor 1 Bidang Akademik, Kemahasiswaan dan Alumni UNJ, Ifan Iskandar, menegaskan bahwa pihaknya juga telah menerapkan pemeriksaan secara ketat kepada para peserta. Mereka dilarang membawa barang personal seperti handphone dan lainnya ke dalam ruang ujian.
Di sisi lain, pemeriksaan lebih kelat juga digunakan menggunakan metal detector sebagai standar wajib di UNJ guna mendeteksi alat elektronik kecil yang kerap disalahgunakan. Langkah antisipatif itu juga berdasarkan pengalaman UNJ selama bertahun-tahun dalam menangani kecurangan seperti modus perangkat yang disembunyikan di area sensitif.