Dan ketiga, Purbaya adalah sosok yang selalu dinanti khalayak. Penjelasan-penjelasannya praktis, mudah dicerna, dan kerap menerbitkan harapan perbaikan hidup. Ini yang terpenting. Karenanya, Purbaya juga menjadi kesayangan media. Informasi yang memuatnya selalu ramai diperbincangkan. Namun di sisi lain, tema yang dilontarkannya juga kerap membuat sebagian khalayak tidak nyaman. Misalnya pernyataan "dana desa yang hanya membuat kepala desa makin kaya". Ini menciptakan pembenci. Ketika digabung dengan kebijakan lain seperti larangan impor baju bekas, pembencinya terakumulasi. Baik pencinta maupun pembenci sama-sama ramai berkomentar, yang ujungnya adalah traffic media sosial yang disenangi pemasang iklan.
Apa keadaan buruk yang ditimbulkan fenomena ini? Tergerusnya kepercayaan khalayak pada apa pun dan sulit dipulihkan.
Untuk memperbaiki keadaan itu, Sorkhou mengusulkan langkah mengembalikan epistemic trust, dengan:
(1) Transparansi sumber informasi agar mudah diakses sehingga khalayak dapat segera mengonfirmasi pada sumbernya.
(2) Menempuh “friksi epistemik” kecil yang mendorong refleksi sebelum percaya. Ini relevan dengan jeda keraguan. Sebelum kebenaran informasi dipastikan, statusnya harus diragukan dulu.
(3) Menyebutkan secara jujur jika terdapat ketidakpastian. Ini dapat ditandai dengan pernyataan "belum terkonfirmasi sepenuhnya" atau "menunggu informasi lebih lanjut".
(4) Menampilkan keragaman perspektif untuk memberi keleluasaan khhalayak memperoleh pandangan yang menyeluruh dari suatu peristiwa.
Tampaknya empat langkah itu hanya bisa dilakukan pers. Institusi ini memiliki disiplin dalam memproduksi dan mendistribusikan informasi. Jeda keraguan dapat diperpendek ketika pers hanya menyajikan informasi yang pasti realitas objektifnya, alih-alih turut mendistribusikan deepfake yang memanipulasi.
Itu, jika pers memilih menjadi kuat. Akankah?