Jeda Keraguan: Jalan Menghadapi Pabrik Realitas Buatan Deepfake

iNews
Pemerhati Budaya dan Komunikasi Digital Pendiri LITEROS.org, Dr. Firman Kurniawan S. (Foto: Dok pribadi)

Ungkapan Sorkhou itu sejalan dengan perlunya mencerap realitas lebih lama dalam kesangsian. Dibutuhkan jeda keraguan saat memastikan realitas. Dan itu bukan perkara mudah ketika informasi hadir sangat intensif.

Maka relevan ditelusuri dorongan intensif unggahan hasil produksi AI dalam mempabrikasi disinformasi. Mengapa ini menjadi pola yang makin dipilih? Pertanyaan ini juga diungkapkan seorang jurnalis yang menghubungi penulis. Kurang lebih kalimatnya, "Kenapa unggahan disinformasi (semacam) Purbaya/dana desa ini bisa banyak banget beredar?" Pertanyaan yang mengemas keresahan pers maupun khalayak dalam mencermati gejala yang makin terang ditampilkan.

Menjawab pertanyaan itu dalam perspektif komunikasi digital, komunikasi yang dikendalikan algoritma dan bertendensi mencapai viralitas, setidaknya ada tiga hal penyebabnya.

Pertama, teknologi untuk memformulasi deepfake dengan tujuan disinformasi makin murah dijangkau, mudah digunakan, dan kian sempurna hasilnya. Siapa pun untuk tujuan serius, mendapatkan keuntungan ekonomi maupun politik. Juga yang bertujuan sambil lalu, sekadar uji coba aplikasi baru, serta menunjukkan ketaktertinggalannya dari perkembangan teknologi, akan memperoleh kegairahan menggunakan teknologi ini. Karenanya ungahan-unggahan disinformasi hasil produksi AI termasuk deefake, sangat kerap ditemukan di media sosial. 

Kedua, dilihat dari isi pesannya, frekuensi tema politik termasuk kebijakan pemerintah memperoleh perhatian tinggi dari khalayak dibandingkan dengan unggahan hiburan dan gaya hidup; teknologi dan inovasi; kesehatan dan kesejahteraan; serta isu sosial dan lingkungan. Unggahan yang membahas aturan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), gentengisasi, Makan Bergizi Gratis (MBG), selain soal dana desa di atas, merupakan tema yang sangat sering diunggah di media sosial. Tingginya perhatian berarti tinggi pula traffic suatu unggahan, yang berimplikasi pada kemudahannya dijual kepada pengiklan. Algoritma membacanya sebagai unggahan yang menarik.

Editor : Maria Christina
Artikel Terkait
Nasional
4 bulan lalu

Dapatkah Rasionalitas Berpikir Bertahan di Zaman Artificial Intelligence? 

Nasional
5 bulan lalu

Aksi Artificial Intelligence Memerangi Korupsi

Nasional
7 bulan lalu

"Efek Kupu-Kupu" Artificial Intelligence pada Nasib Peradaban

Nasional
7 bulan lalu

Urgensi Aturan Perlindungan terhadap Bahaya Artificial Intelligence

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal