Diah memperingatkan konsekuensi dari gelombang PHK ini sangat serius jika terus berlanjut. Pengurangan jurnalis senior yang memahami etika jurnalistik dan memiliki idealisme tinggi dalam menjalankan peran sebagai agen perubahan bisa memicu matinya sumber informasi yang sahih.
"Perannya akan digantikan oleh para content creator yang muncul dadakan dan populer karena gerakan tarian atau berita bombastis. Kita mungkin tidak akan lagi menemukan berita yang cover both sides atau berimbang secara jurnalistik," ujarnya.
Gelombang PHK di industri media juga memperkuat dominasi perusahaan teknologi global seperti Google, TikTok, dan YouTube. Perusahaan-perusahaan ini tidak hanya menjadi mesin pencari dan platform distribusi, tetapi juga saluran utama informasi bagi masyarakat.
"Bisnis kapitalis digital ini akan semakin menggurita, masuk ke dalam lini kehidupan masyarakat tanpa disadari," ujar Diah.
Keberadaan media sebagai watchdog atau pengawas pemerintah pun patut dipertanyakan dengan ketidakberdayaannya menghadapi gelombang PHK ini.