Dalam kesempatan itu, Dudung juga mengajak seluruh anak bangsa untuk tidak saling menyebar permusuhan dan tidak ada kecurigaan.
“Mari kita sama-sama, tidak ada lagi permusuhan, tidak ada lagi saling curiga, saling memfitnah," ungkapnya. Pada kesempatan itu, Dudung kemudian menjelaskan awal mulai sebutan Jenderal Baliho itu disematkan kepadanya. Ketika itu, saat masih menjabat sebagai Pangdam Jaya, Dudung memerintahkan prajuritnya untuk menurunkan baliho Front Pembela Islam (FPI).
“Karena sebetulnya dulu waktu saya menurunkan baliho juga kan, karena FPI itu kan waktu itu organisasi memang sudah dibekukan di tahun 2019. Nah, yang menguatnya itu menurut saya karena ada ajakan-ajakan revolusi akhlak lah, yang kemudian akhirnya dari narasi-narasi yang disampaikan mengajak, kemudian mengembangkan kegiatan-kegiatan yang menurut saya memang mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa,” ucap dia.
Mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) itu mengatakan, FPI dibubarkan melalui surat dari Kementerian Dalam Negeri. Dudung juga mengaku pernah menyampaikan secara terbuka agar FPI dibubarkan.
"Dan yang membubarkan itu kan Kemendagri, Menko Polhukam. Kalau masih ingat kata-kata saya pada saat di Monas: ‘Kalau perlu FPI bubarkan’. Dan bener dibubarkan. Sebetulnya memang sudah dibekukan. Nah, sekarang ramai seakan-akan bahwa saya jadi KSP kemudian akhirnya narasi dari Bapak Presiden itu muncul. Ya itu bukan, bukan dari saya,” katanya.