3. Naskah Akademik Power Point
Fahri Hamzah mengaku, pemerintah telah menyerahkan naskah akademik rencana pemindahan ibu kota negara Indonesia ke Kaltim kepada DPR. Namun, naskah itu serupa power point dan gambar sebanyak 157 halaman.
Dalam power point tersebut, dia menyebutkan, pemerintah menjelaskan akan membangun hunian layak di calon wilayah ibu kota baru itu. Namun, gambar yang merepresentasikan hunian itu justru gedung bertingkat seperti hotel bintang lima.
"Saya baca itu ya, mohon maaf, saya baca naskahnya itu naskah ya power point dan gambar-gambarnya itu banyak yang unik-unik lah. Masak disebut membangun hunian yang layak, terus ada gambar kayak hotel dan kamar hotel bintang lima, ini apa kaya pengembang," tutur Fahri di Kompleks Parlemen Senayan, Selasa (27/8/2019).
Politikus asal Sumbawa, NTB, itu menyarankan, jika pemerintah ingin membangun ibu kota negara yang ideal, sebelumnya harus duduk bersama dengan sejarawan di sana. Dengan begitu, kebudayaan di sana tidak tergerus.
"Harusnya itu dimulai dari sejarawan ngomong dulu, di DPR itu didalami, bikin simposium dulu, kajian panggil sejarawan, panggil founding fathers," kata Fahri.
Mantan ketua KAMMI itu menuturkan, presiden memang mempunyai hak ketatanegaraan untuk mengajukan ibu kota baru. Namun, dia menyayangkan sejumlah pembisik Presiden Jokowi yang menganggap remeh rencana pemindahan pusat pemerintahan tersebut.
"Tapi sejatinya yang menjadi penasihat presiden itu, gak boleh begitu. Presiden enggak boleh berbuat salah. Kasihan nanti, presiden kan nanti ini jadi fiksi lain, kan enggak bagus," ujarnya.
4. Terancam Jadi Kota Mati
Kritikan juga keluar dari mulut Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil. Pria yang akrab disapa Kang Emil ini bahkan menyampaikan langsung kritikannya saat dipanggil Presiden Jokowi di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (28/8/2019).
Dalam pertemuan tersebut, pria berlatar belakang arsitek ini menilai, lahan seluas 180 ribu hektare (ha) untuk ibu kota terlalu lalu. Hal itu berpotensi membuatnya menjadi kota mati, terutama pada malam hari.
Dia mengatakan, rencana pembangunan ibu kota baru hingga ratusan ribu hektare bisa membuat pemindahan ibu kota dianggap gagal. Dia meminta pemerintah belajar dari kesuksesan AS memindahkan ibu kota dari New York ke Washington DC.
"Dari seluruh ibu kota yang dipindah di dalam sejarah perkotaan, yang terbaik itu Washington DC. Orang bisa jalan kaki, malam hari ramai, jam 5 kantor berhenti, kota masih hidup," katanya usai bertemu Presiden Jokowi di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (28/8/2019).
Sejumlah negara seperti Brasil, menurut Kang Emil, hingga saat ini dicap gagal saat memindahkan ibu kota dari Rio de Jeneiro ke Brasilia. Dia tidak ingin Bukit Soeharto yang akan menjadi ibu kota pengganti Jakarta bernasib seperti Brasilia.
"Ada ibu kota di Brasil, (yaitu) Brasilia setelah 50 tahun dicap sebagai ibu kota yang tidak berhasil oleh Harvard, New York Times. Jangan sampai kejadian, kita sibuk sekarang dengan cara yang seperti itu, 50 tahun setelahnya mangkrak," tuturnya.
Kondisi Brasilia, kata Kang Emil, bertolak belakang dengan Washington DC. Di ibu kota baru Brasil itu, saat aktivitas pekerjaan warga berhenti, kota itu seperti kota mati pada malam hari.
"Nah jangan sampai kejadian dengan ibu kota baru yang lain (seperti Brasilia), malam hari sepi karena apa? tidak ada tempat ritel, orang juga rumahnya jauh-jauh. Jadi hidup kan di kota bukan hanya urusan kerja tapi percampuran kegiatan kemanusiaan itu harus ada," katanya.
Untuk itu, dia meminta pemerintah meninjau kembali rencana pembangunan ibu kota baru di Kaltim seluas 180 ribu ha. Dia menyebut, luas Washington DC hanya 17 ribu ha.
"Maksimal 30 ribu ha, itu lebih dari cukup, tidak usah 180 ribu ha. Jadi 30 banding 180 kan? Semuanya itu kan ibu kota Amerika itu sudah teruji berabad-abad dan hasilnya dalam teori ilmiah itu ibu kota paling baik," ujar Kang Emil.