Dalam kerangka tersebut, Atalia menyampaikan sejumlah catatan. Pertama, integrasi data antara Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) dan verifikasi lapangan perlu diperkuat agar tepat sasaran dan tidak menimbulkan bias. Kedua, pendekatan berbasis keluarga dinilai penting mengingat banyak anak turun ke jalan akibat tekanan ekonomi rumah tangga.
Selain itu, dia menekankan pentingnya jaminan keberlanjutan pendidikan melalui pendampingan psikososial dan kurikulum adaptif, serta perlunya kolaborasi lintas sektor antara pemerintah pusat, daerah, dan organisasi masyarakat sipil.
“Atas nama Komisi VIII DPR RI, kami akan mendorong agar Sekolah Rakyat menjadi kebijakan inklusif yang berkelanjutan dan terukur dampaknya,” kata Atalia.
Dia menambahkan, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah anak yang terjaring, tetapi juga dari kemampuan mereka bertahan dalam pendidikan dan keluar dari siklus kerentanan.
"Setiap anak Indonesia, tanpa terkecuali, memiliki hak yang sama atas pendidikan yang layak sebagaimana diamanatkan dalam konstitusi. Negara harus hadir tidak hanya untuk menemukan mereka yang tertinggal, tetapi juga memastikan mereka dapat melangkah maju dengan martabat dan masa depan yang lebih baik," pungkasnya.