"Sampaikan Menteri PU pada waktu itu. 'Pak ini ada.. wah ini mahal' Kenapa?'. Ternyata di sini ada pipa raksasa bangunan Belanda itu ya, yang menyuplai air minum di Menteng persis melintang di sini ini," ucapnya.
Kendala anggaran tak menyulutkan keinginannya untuk bisa menghadirkan simbol toleransi di Indonesia. Dia pun melaporkan kendala tersebut langsung kepada Jokowi.
"Nah, anggarannya lumayan besar, nggak ada yang mendukung. Maaf, pada waktu itu saya lapor ke Pak Presiden: 'Pak, ya katanya mahal biayanya. Yang kita akan bangun ini bukan terowongan Bapak Presiden, yang kita akan bangun ini adalah ikon, simbol toleransi'. 'Kalau begitu saya setuju'. Jadi begitu setuju, langsung dibangun Bapak," ucapnya.
Dia menyebut, akses yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta itu sebagai satu-satunya terowongan toleransi yang ada di dunia. Bahkan tamu negara kerap ingin mengunjungi Terowongan Silaturahmi setelah dari Istana Kepresiden.
"Artinya apa? Satu-satunya terowongan toleransi di dunia adalah ini," kata Menag.