Selain faktor energi akibat konflik internasional, Said Iqbal juga menyoroti kebijakan impor yang dinilai berpotensi menekan penyerapan tenaga kerja domestik. Salah satu yang menjadi perhatian adalah masuknya kendaraan impor dari luar negeri yang dianggap mengurangi peluang produksi di dalam negeri.
Ia menjelaskan, jika produksi dilakukan di dalam negeri, rantai pasok industri dapat menyerap puluhan ribu tenaga kerja. Namun, jika pemerintah memilih impor langsung, ancaman kehilangan pekerjaan meningkat.
“Ini bukan sekadar soal harga lebih murah. Ini soal hilangnya lapangan kerja,” tegas Said Iqbal.