Selama menjadi peternak ayam, Bob Sadino dan istrinya menjual beberapa kilogram telur setiap hari. Mereka memiliki banyak pelanggan, terutama orang asing, karena kemampuan mereka dalam berbahasa Inggris. Bob Sadino dan keluarganya tinggal di Kemang, Jakarta, yang pada saat itu banyak dihuni oleh orang asing.
Meskipun tidak jarang menghadapi masalah dengan pelanggan, Bob Sadino dan keluarganya selalu memperbaiki pelayanan mereka. Perubahan dalam sikap Bob Sadino juga sangat mencolok, dari pribadi yang feodal menjadi seorang pelayan yang rendah hati. Lama kelamaan, Bob Sadino, yang sering terlihat mengenakan kemeja lengan pendek dan celana pendek, berhasil menjadi pemilik tunggal supermarket Kem Chicks.
Bisnis pasar swalayan Bob Sadino berkembang pesat dan merambah ke dunia bisnis pertanian, terutama dalam bidang hortikultura. Ia mengelola kebun-kebun sayuran untuk memenuhi kebutuhan konsumen asing di Indonesia dan menjalin kerja sama dengan petani-petani di beberapa daerah.
Bob Sadino meyakini bahwa kesuksesan selalu dimulai dari kegagalan demi kegagalan. Ia dan istrinya sering mengalami kesulitan dalam perjalanan bisnis mereka, namun mereka tidak pernah menyerah. Bagi Bob Sadino, uang bukanlah yang utama, tetapi kemauan, komitmen, keberanian untuk mencari peluang, dan kemampuan untuk menangkap peluang tersebut.
Dia selalu menunjukkan fleksibilitas terhadap orang-orang dengan mendengarkan kritik dan saran mereka. Hal ini membuat mereka menyukainya, dan dia akhirnya membangun pasar yang besar. Bob Sadino mengatakan, membuat pelanggan senang adalah kunci membuat diri sendiri bahagia.