BI Ungkap Pemicu Rupiah Sempat Sentuh Rp18.000 per Dolar AS, Siap Jaga Stabilitas

Anggie Ariesta
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso. (Foto: Anggie Ariesta)

"Jadi, kombinasi adalah sinyal hawkish pejabat The Fed dan juga diikuti dengan naiknya DXY pada level tertinggi dalam satu tahun terakhir inilah yang membuat nilai tukar sejumlah negara itu melemah terhadap US Dollar," kata Denny saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (7/7/2026).

Adapun, pada penutupan perdagangan Selasa (7/7/2026), nilai uang rupiah berhasil berbalik arah dan ditutup menguat tipis 0,08 persen ke posisi Rp17.950 per dolar AS. 

Meski begitu, secara pergerakan harian (intraday), mata uang AS tersebut sempat melemah hingga menyentuh level Rp18.009 pada sekitar pukul 14.12 WIB.

Menghadapi tekanan eksternal tersebut, Denny menegaskan bahwa bank sentral akan mengambil langkah preventif dan tidak tinggal diam. BI siap mengerahkan seluruh instrumen bauran kebijakan demi membentengi stabilitas rupiah dengan bersiaga mengawal pasar selama 24 jam penuh, baik pada jaringan pasar luar negeri maupun domestik.

Langkah yang diambil bank sentral mencakup operasi intervensi pada tiga lini pasar keuangan strategis sekaligus menjalin komunikasi dua arah secara intensif dengan para pelaku pasar modal.

Editor : Aditya Pratama
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Dasco Kumpulkan BI hingga DEN, Bahas Mitigasi Gejolak Ekonomi Global

57 tahun lalu

BI Rate Naik, KPR Rp1 Miliar Kini Tembus Rp8 Juta per Bulan!

57 tahun lalu

BI Rate Naik, Menteri PKP Jamin Bunga KPR Rumah Subsidi Tetap 5 Persen

57 tahun lalu

BI Rate Naik jadi 5,75%, Airlangga Minta Himbara Tahan Bunga Kredit

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal