Namun, nama putri Sunda itu tidak disebutkan dalam kidung tersebut. Di sisi lain, Gajah Mada tidak menghendaki hal itu lantaran menganggap bahwa orang Sunda harus tunduk kepada orang Majapahit. Jumlah pasukan yang tidak seimbang adalah penyebab utama dari kekalahan Kerajaan Sunda.
Kerajaan Panjalu dan Jenggala merupakan dua kerajaan yang berada di kawasan Mataram Kuno. Perang ini diketahui terjadi karena perebutan kekuasaan dalam takhta Kahuripan.
Melansir Okezone, Raja Kahuripan yang kala itu memimpin, Airlangga, berniat mewariskan tahtanya kepada putri mahkota bernama Sanggramawijaya Tunggadewi. Namun, Tunggadewi memilih untuk menimba ilmu batin dan tidak ingin menjadi pemimpin.
Mengetahui keinginan tersebut, Airlangga meminta saran kepada Mpu Bharada dan akhirnya memutuskan untuk membagi wilayah kekuasaannya menjadi dua, yakni Panjalu atau Kediri dan Jenggala kepada kedua putranya.
Sri Samarawijaya berhak atas kekuasaan di Panjalu, sedangkan Mapanji Garasakan diamanahi kekuasaan di Jenggala. Sayangnya, kedua putra raja ini berselisih hingga mengakibatkan perang.
Dalam perang ini, kedua belah pihak sama-sama memperebutkan wilayah. Perang memuncak ketika Raja Airlangga wafat. Perang ini berlangsung selama 60 tahun dengan kemenangan di pihak Kerajaan Panjalu.