590.000 Ton Sampah Masuk ke Laut Indonesia Per Tahun, Styrofoam Mendominasi

Antara
Kondisi pesisir Desa Teluk, Labuan, Pandeglang, Banten, Rabu (4/12/2019) yang dipenuhi tumpukan sampah karena kendala kendaraan pengangkut. (Foto: iNews/Iskandar Nasution)

JAKARTA, iNews.id – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan penelitian di 18 kota utama Indonesia. Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa sebanyak 270.000 hingga 590.000 ton sampah masuk ke laut Indonesia selama 2018.

“Teman-teman kami melakukan pengukuran ke lapangan. Dari jumlah tersebut pada umumnya merupakan sampah dengan jenis styrofoam,” ungkap Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko, seusai rapat peluncuran baseline data nasional sampah laut di Jakarta, Kamis (12/12/2019).

Sampah-sampah tersebut, kata dia, masuk dari jalur sungai atau muara menuju laut lepas bukan akibat dari transportasi kapal. Menariknya, dari penelitian tersebut ditemukan bahwa styrofoam lebih dominan dari jenis sampah lain. Itu dikarenakan sampah plastik botol masih memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

“Jadi oleh pemulung, botol dan plastik diambil karena masih bisa didaur ulang sedangkan styrofoam tidak bisa,” katanya.

Handoko mengatakan, berdasarkan penelitian sampah tersebut, sebaiknya pemerintah dan lembaga terkait memprioritaskan larangan penggunaan styrofoam karena volumennya lebih tinggi dari jenis sampah lainnya. Kendati demikian, masyarakat terus diimbau agar mengurangi atau tidak menggunakan sampah plastik sekali pakai terutama jenis styrofoam dalam aktivitas sehari-hari.

Kemudian, berdasarkan hasil riset tersebut, pada saat musim hujan volume sampah meningkat cukup drastis jika dibandingkan dengan musim kemarau. Hal itu disebabkan tumpukan sampah di selokan atau got meluap akibat tingginya volume air. Pemerintah, kata dia, sedang mengupayakan 0,27 juta hingga 0,59 juta ton sampah yang masuk ke laut Indonesia selama kurun waktu 2018 bisa dikurangi hingga 70 persen.

Untuk mencapai target 70 persen tersebut, LIPI merekomendasikan agar masyarakat dan lembaga pemerintah maupun swasta untuk mengubah perilaku, terutama dalam menekan penggunaan sampah sekali pakai. “Pertama, masyarakat jangan buang sampah sembarangan dulu karena itu merusak ekosistem,” tuturnya.

Editor : Ahmad Islamy Jamil
Artikel Terkait
Megapolitan
18 jam lalu

Pramono Janji Gunungan Sampah di Pasar Kramat Jati Rampung Sepekan

Buletin
6 hari lalu

Pramono Anung Sebut Persoalan Sampah Jakarta Selesai dalam Waktu Dekat

Megapolitan
9 hari lalu

Viral Timbunan Sampah di Pasar Induk Kramat Jati Capai 6.970 Ton, Pasar Jaya Buka Suara

Megapolitan
9 hari lalu

Pramono Sebut Longsor di TPST Bantargebang Sempat Bikin Sampah di Jakarta Menumpuk

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal